Abstrak

Karsinoma sel skuamosa (SCC) merupakan penyakit ganas yang paling sering terjadi di rongga mulut. Hal ini biasanya mengenai orang yang berusia lebih dari 50 tahun, dengan riwayat mengkonsumsi tembakau atau alkohol, atau keduanya. Laporan kasus ini membahas kasus SCC yang tidak biasa mengenai pasien laki-laki muda berusia 22 tahun. Pasien merupakan seseorang yang tidak merokok, peminum alkohol ringan, dan keadaan umumnya sehat dan baik. Disamping fakta bahwa pasien ini tidak punya faktor risiko kanker mulut, lesi yang abnormal ditemukan di palatum anterior nya dimana tidak menyerupai ciri khas SCC. Lesi ini ditemukan di dekat gigi insisif sentral atas, yang sebelumnya telah mengalami trauma. Temuan klinis, histopatologi, dan pengobatan, akan dibahas pada jurnal ini.

Bab 1

Pendahuluan

Kanker kepala dan leher, merupakan kanker keenam yang paling sering terjadi, terdiri dari kanker bibir, mulut, lidah, tonsil, faring, kelenjar ludah, hipofaring, laring dan lainnya. Kanker mulut mengacu pada kanker lidah, gingiva, dasar mulut, palatum, vestibulum dan ruang retromolar, dan mewakili lebih dari 90% dari semua kanker kepala dan leher. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan prevalensi insiden kanker kepala dan leher pada pria berusia 50 sampai 70 tahun. Namun, telah terjadi peningkatan jumlah pasien muda dimana sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa 4-6% dari kanker mulut sekarang terjadi pada usia kurang dari 40 tahun. Sebagian besarnya adalah kanker mulut dan orofaring. Studi epidemiologi terbaru menunjukkan peningkatan dalam perkembangan SCC rongga mulut pada rasio pasien wanita muda dan penurunan pada rasio pasien laki-laki. Meningkatnya kejadian kanker mulut pada perempuan didapat dari meningkatnya konsumsi tembakau dan alkohol oleh perempuan muda.

Bab 2

Laporan Kasus

Faktor risiko

Beberapa studi meneliti faktor risiko untuk kanker mulut memberikan bukti bahwa banyak pasien yang lebih muda tidak pernah merokok atau mengkonsumsi alkohol, atau durasi paparan faktor pemicu mungkin terlalu singkat untuk transformasi ke tahap maligna terjadi. Dalam kasus ini, kanker yang terjadi berbeda dengan kanker yang terjadi pada pasien yang lebih tua. Dalam kasus ini memiliki etiologi dan tampilan klinis yang berbeda, dengan hubungan yang lebih lemah terhadap faktor risiko, dan memiliki perjalanan yang lebih agresif. Faktor-faktornya telah diselidiki untuk mengungkap etiologi SCC di rongga mulut pada pasien usia muda termasuk kelainan genetik, infeksi virus sebelumnya, pola gizi, immunodeficiency, paparan karsinogen, kondisi sosial ekonomi dan oral hygiene. Sebuah riwayat keluarga berkaitan dengan gejala timbulnya awal dari SCC kepala dan leher dan ada beberapa penelitian yang menunjukkan peningkatan risiko di tingkat pertama. Bukti terkuat pada infeksi human papillomavirus (HPV). Penelitian multi case control terbaru melaporkan bahwa Infeksi HPV-16 meningkatkan risiko kanker rongga mulut dan khususnya oropharynx.

Lokasi

SCC kepala dan leher pada pasien muda cenderung terjadi di rongga mulut dan oropharynx. Dalam rongga mulut, lidah adalah lokasi yang paling sering terkena pada pasien muda, dasar mulut dilaporkan sebagai lokasi yang jarang terkena dibandingkan dengan pasien tua. Tampak adanya peningkatan jumlah karsinoma tonsil yang terkait dengan HPV, khususnya pada laki-laki (perokok dan non-perokok). El Mofty menunjukkan hubungan yang kuat antara HPV-16 dengan kanker tonsil pada laki-laki berusia kurang dari 40 tahun. Diyakini bahwa HPV menjadi faktor pada kelompok pasien berusia kurang dari 40 tahun, biasanya perempuan non-perokok, dengan kanker mulut.
Kecenderungan meningkatnya SCC oral pada pasien muda tanpa faktor risiko yang dapat memicu membutuhkan dokter untuk waspada dan melakukan pemeriksaan skrining kanker mulut untuk setiap pasien tanpa memandang usia atau faktor risiko yang terkait. Hal ini penting bahwa kita mampu mengenali penyakit mulut / patologi pada tahap awal, memberikan prognosis yang lebih baik, kesempatan untuk bertahan hidup, dan kualitas hidup pasien. Sayangnya, banyak

pasien yang didiagnosis dengan penyakit tahap lanjut, dengan lebih dari 60% yang mengenai region lainya atau menyebar. Tingkat kelangsungan hidup bagi penderita kanker diperkirakan lima tahun memiliki range antara 50 dan 80%, tergantung pada tahap penyakit, bervariasi dari 86% untuk stadium I (diagnosis dini) untuk 12-16% untuk stadium IV (diagnosis akhir) . faktor utama dalam hasil yang buruk untuk kanker mulut adalah presentasi akhir, sebagian karena kurangnya kesadaran tentang kanker mulut di masyarakat. Dalam sebuah penelitian terbaru tentang populasi pasien rawat jalan di rumah sakit, disimpulkan bahwa terdapat tingkat pengetahuan yang buruk tentang kanker kepala dan leher pada populasi di Barat Irlandia. Sebanyak 70% responden tidak pernah mendengar tentang kanker kepala dan leher, 73% tidak menganggap alkohol merupakan faktor risiko dan kurang dari 50% akan prihatin dengan suara serak yang berkelanjutan atau ulkus di rongga mulut yang berkepanjangan. Telah terbukti bahwa probabilitas dalam menghindari penyebaran penyakit regional, dan pengurangan 50% yang terkait dalam kelangsungan hidup, berbanding terbalik dengan diagnosis yang terlambat. Hubungan yang signifikan antara diagnosis yang terlambat dengan tampilan klinis stadium lanjut pada kanker mulut dan faring telah dikonfirmasi dengan meta-analisis terbaru oleh Gomez dkk. di 2011.

Perawatan kanker mulut memiliki dampak besar bagi pasien mengingat pentingnya mulut untuk berbicara, pengunyahan dan menelan. Namun, kemajuan dalam rekonstruksi memberikan kontribusi besar terhadap kualitas hidup pasien. Penggantian mikrovaskuler jaringan dan tulang yang hilang, innervated flaps, facial reanimation, dan implan osseointegrasi dapat merehabilitasi fungsional.

Pada artikel ini, kami menyajikan kasus yang tidak biasa dari SCC oral pada laki-laki 22 tahun fit dan sehat yang tidak memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol atau tembakau. Ada juga riwayat trauma pada gigi insisivus di dekat dengan di mana kanker itu terletak sekitar lima tahun sebelum di diagnosis.

Laporan kasus

Seorang laki-laki berusia 22 tahun dalam kondisi sehat dirujuk oleh dokter gigi umum nya (GDP) ke RSGM Universitas Dublin untuk pemeriksaan periodontal pada daerah pembengkakan dan kemerahan pada langit-langit mulut anterior (Gambar 1). Pembengkakan telah muncul kira-kira 2 tahun dan ketika dokter gigi melihat kelainan pada pemeriksaan rutin ia direkomendasikan

untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut segera. Pasien mengeluhkan adanya bengkak kemerahan pada daerah anterior palatum durum yang terkait dengan margin gingiva palatal gigi 2.1 dan 2.2 (Gambar 2). Pasien merasa bahwa pembengkakan merah di langit-langit semakin membesar dari dua tahun sebelumnya tapi ia tidak peduli karena tidak ada rasa sakit yang dirasakan. Kadang muncul perdarahan di daerah palatal, namun tidak ada rasa sakit. Insisivus sentral telah mengalami trauma minor sekitar lima tahun yang lalu dan telah dilakukan dua restorasi komposit. Secara medis, pasien memiliki kondisi fit dan baik, tidak merokok dan peminum ringan.
Temuan klinis menunjukkan pembengkakan pada palatum durum di dekat insisivus sentral dan lateral kiri atas. Dalam pengukuran sebesar 15mm, memiliki bentuk yang tidak teratur dan tidak mengindurasi. Pembengkakan memiliki tampilan bergranular dan berwarna merah gelap. Area tersebut lembut saat disentuh, tidak berindurasi, tidak ulserasi, dan bagian ujung-ujungnya sedikit terangkat (Gambar 3). Semua gigi anterior merespons tes vitalitas elektrik dan termal. Radiografi panoramik menunjukan kehilangan tulang yang signifikan di sekitar gigi insisif sentral dan lateral kiri atas, meskipun tidak ada kehilangan tulang periodontal di tempat lain di mulut (Gambar 4).

Perawatan

Lesi memiliki beberapa tampilan yang mirip dengan infeksi endodontik, klinis dan radiografi, namun gigi tetap vital. Margin lesi yang sedikit terangkat dan menggulung, menimbulkan kecurigaan untuk kanker. Dilakukan pemeriksaan biopsi dan analisis histologis untuk menentukan diagnosis SCC. Pasien segera dirujuk ke Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial di Rumah Sakit St James untuk pemeriksaan kanker mulut lebih lanjut. Investigasi dengan computed tomography (CT) dan positron emission tomography (PET) scanning. Dalam kasus ini, pemeriksaan menunjukan bahwa karsinoma tersebut terbatas pada langit-langit dan tidak ada tumor sekunder terletak dengan diagnosis T1N0M0. Bedah adalah terapi pilihan untuk kanker alveolus maksilaris dan palatum durum. Pasien ini membutuhkan eksisi lokal yang luas dengan reseksi dengan keterlibatan mucoperiosteum dan tulang untuk memastikan bahwa margin lesi telah terangkat semua. Maxillectomy anterior, termasuk konka kanan dan kiri memanjang dari premolar kedua kiri atas ke molar pertama kanan atas, dilakukan di bawah anestesi umum (Gambar 5). Akses yang cukup sampai batas posterior tumor, oleh karena itu, dirasa tidak perlu

untuk melakukan lip-split untuk mendapatkan margin yang jelas. Insisi mukosa dibuat dengan margin 1 cm dari jaringan normal, dan pemotongan tulang dilakukan dengan oscillating saw. Setelah operasi itu dilakukan, ekstraksi gigi segera direncanakan (Gambar 6). Pemotongan alveolar dibuat melalui soket gigi yang diekstraksi. Hal ini memungkinkan dukungan tulang yang baik untuk gigi yang tersisa untuk mendukung rehabilitasi gigi. Spesimen telah diangkat segera dilakukan penutupan pada kavitas maxillectomy membantu mencapai haemostasis. Sebuah dental obturator gigi diletakan pada luka bekas oprasi. Obturator relatif cepat sebagai pilihan rekonstruksi pada saat operasi primer. Obturator memiliki keuntungan bahwa kavitas dapat diperiksa untuk adanya kemungkinan rekurensi dan relatif mudah untuk mengembalikan fungsi bicara dan estetika gigi. Kerugiannya adalah membutuhkan pemeliharaan untuk alat obturator seumur hidup pasien dan melemahkan efek prosthesis pada pasien muda.

Sebuah obturator kobalt krom permanen dibuat ketika penyembuhan luka bedah memadai (Gambar 7). Sejak di diagnosis dini, penyakit ini dirawat dengan pembedahan saja. Kemoterapi dan radioterapi tidak diindikasikan. Hal ini secara signifikan mengurangi morbiditas jangka panjang bagi pasien. Pasien harus menjaga kebersihan mulut secara intens dan program pencegahan dengan mengecek kebersihan gigi di Rumah Sakit Dublin Dental University. Kebersihan mulut yang buruk sering ditemukan pada pasien kanker dan perlu ditekankan untuk dibutuhkan prosedur pembersihan intraoral pra-operasi dan pasca operasi yang memadai. Pasien ini dirawat dengan sangat baik pasca operasi dan saat ini memakai gigi tiruan kobalt krom menggantikan gigi depannya dengan obturator palatum (Gambar 8). Perawatan selanjutnya dipertimbangkan untuk kemungkinan free flap reconstruction dengan tulang dan jaringan lunak untuk menyempurnakan rekonstruksi rongga mulut.

GAMBAR 1: tampilan rongga mulut pasien

GAMBAR 2: tampilan gigi dan gingiva pasien

GAMBAR 3: lesi di palatal

GAMBAR 4: Radiografi panoramik menunjukkan resorpsi tulang alveolar pada akar gigi insisivus lateralis kiri atas. Daerah radiolusen lokal untuk gigi insisivus lateral dan tidak ada tanda-tanda resorpsi invasif dari puncak alveolar. restorasi komposit juga dapat dilihat pada gigi insisivus sentral atas. Tidak ada perawatan saluran akar ditunjukkan pada saat trauma pada gigi seri.

GAMBAR 5: Foto panoramic setelah pembedahanpada maksila dan ekstraksii gigi

GAMBAR 6: defek palatal setelah pebedahan reseksi

GAMBAR 7: obturator cobalt chrome GAMBAR 8: tampilan setelah pemasangan gigi tiruan

Bab 3

Pembahasan

Kasus di atas menggambarkan kasus yang tidak biasa dari SCC rongga mulut baru-baru ini. Dalam laporan kasus ini, pasien tidak disertai dengan salah satu faktor risiko yang biasa. Pasien masih muda, sehat, non-perokok dan peminum ringan. Seseorangan dengan kebiasaan merokok, terutama dengan konsumsi alkohol, merupakan penyebab utama kanker mulut, kita harus ingat bahwa non-perokok dan non-peminum juga dapat terkena penyakit. Karsinoma palatum durum dan alveolus atas relatif jarang, sebanyak 10% dari kanker mulut, kecuali di daerah India dan Asia Tenggara di mana merokok adalah kebiasaan. Di Barat, tembakau tanpa asap tidak ditetapkan sebagai faktor risiko yang signifikan pada pasien muda. Shiboski mencatat karsinoma tonsil, lidah dan pangkal lidah meningkat pada pasien kulit putih muda dari 1973-2001 di Amerika Serikat. Karsinoma palatum durum terjadi hanya setengah karsinoma palatum mole, dan kanker alveolar ridge maksila terjadi hanya sepertiga dari kanker alveolar ridge mandibular. Daerah tersebut dilapisi dengan mukosa keratin yang memberikan perlindungan dari tekanan pengunyahan dan dapat memberikan perlindungan pada lapisan inti basal dari efek karsinogen. Lesi alveolar ridge maksila sering terjadi, sehingga memungkinkan untuk dilakukan diagnosis dini. Sebesar 82% dari karsinoma alveolar ridge rahang atas adalah T1 atau T2 pada saat diagnosis, dan 86% adalah N0. Kanker palatum cenderung lebih besar ketika didiagnosis, tetapi hanya 13% yang mengalami metastasis saat di diagnosis. Adanya metastasis ke daerah leher atau penyakit lokal bawaan menurunkan kelangsungan hidup penderita lima tahun dari sekitar 70% menjadi sekitar 30% .

Untungnya, kanker jenis ini terlokalisir dan dapat didiagnosis lebih awal. Namun, hal ini tidak selalu terjadi, ketika kanker lebih lanjut, efek pengobatan dapat melemahkan dan gagal serta memiliki efek psikologis yang serius pada pasien. Jika kita bisa memotivasi pasien,

kesadaran dokter gigi dan dokter, kita dapat melakukan rujukan untuk fasilitas perawatan sekunder. Hal ini biasanya dapat meningkatkan hasil pengobatan. Jika telah dicurigai kanker mulut, pasien harus langsung dirujuk oleh ahli bedah mulut ke rumah sakit gigi atau layanan kanker mulut terdekat melalui telepon dan surat rujukan. Dokter gigi dan perawat gigi juga memiliki peran penting dalam pencegahan, sehubungan dengan berhenti merokok, asupan alkohol dan diet, terutama pada pasien muda. Diagnosis dari setiap ‘lesi yang berpotensi ganas’ seperti leuko / erythroplakia perlu ada di garis depan pikiran kita ketika melakukan pemeriksaan klinis pasien tanpa memandang usia, faktor risiko dan keluhan (Tabel 1). Pemeriksaan anadalan saat ini dengan biopsi, melihat dari ukuran, penyebaran lokal dan penyebaran lebih jauh, diskusi pada rapat multidisiplin dan keputusan berdasarkan penelitian digunakan pada saat menentukan pengobatan terbaik: bedah mulut dan maksilofasial, radioterapi kepala dan leher atau kemoterapi. Perawatan tersebut merupakan perawatan yang paling sering dikombinasikan.

Tanda dan gejala yang harus diwaspadai

  • Ulser yang tidak kunjung sembuh lebih dari 3 minggu dapat dicurigai kanker mulut sehingga perlu dilakukan rujukan dan pemeriksaan biopsy
  • Lesi kemerahan atau keputihan yang presisten (erythroplakia) tanpa penyebab yang jelas, mungkin dapat berdarah saat disentuh Setiap benjolan di palatum, mukosa bukal, dasar mulut, dan lidah lebih dari 2 minggu Sensasi mati rasa yang tidak biasa pada bibir (atas dan bawah), lidah dan wajah
  • Kesulitan mengunyah (keterbatasan membuka mulut), membengkak atau keterbatasan lidah untuk bergerak
  • Kehilangan gigi secara tiba-tiba, perdarahan dari mulut tanpa diketahui penyebabnya
  • Kondisi yang presisten lebih dari 3 minggu, nyeri pada telinga Mimisan yang berkepanjangan
  • Perubahan warna atau pigmentasi menghitam dengan lesi pada mulut atau di kulit kepala dan leher
  • Benjolan pada kelenjar saliva (parotis, submandibular atau sublingual) atau leher, terlebih lagi disertai konsistensi yang keras
  • Bekas luka pencabutan yang mengalami kegagalan dalam penyembuhan
  • Timbulnya benjolan di mulut tanpa alasan yang jelas

3.1. Faktor penyebab SCC1

Kanker mulut dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagaimana yang telah diketahui oleh banyak orang bahwa faktor utama pemicu kanker adalah konsumsi tembakau atau rokok dan konsumsi alkohol. Tidak hanya itu saja, ada beberapa faktor pemicu kanker rongga mulut diantaranya infeksi human papillomavirus (HPV), pola makan yang buruk, paparan sinar UV, paparan sinar radiasi OH buruk, memiliki penyakit immunosuppressive, trauma, riwayat keluarga dan usia.1

Pada penelitian yang dilakukan oleh Singhvi,dkk. Menyebutkan bahwa trauma pada rongga mulut baik pada mukosa dan dental dapat memicu timbulnya tumor pada rongga mulut dan hal tersebut bekesinambungan dengan kasus yang dibahas dalam jurnal ini dimana pasien mengalami trauma pada gigi depanya sejak 5 tahun yang lalu.

Gambar 9. Trauma dental sebagai pemicu kanker

3.2. Gejala klinis SCC

Pada kasus SCC biasanya pasien menunjukan gejala klinis sebagai berikut seperti lesi sariawan /SAR yang tidak kunjung sembuh, bercak kemerahan atau putih dalam mulut yang menetap, terdapat benjolan atau penebalan dinding dalam mulut, rasa sakit dalam mulut terutama lidah, sulit saat mengunyah atau menelan terasa sakit, gigi goyang tanpa penyebab yang jelas, suara berubah menjadi serak, kesulitan saat berbicara dan membuka mulut, pembengkakan kelenjar getah bening, rahang terasa kaku disertai kehilangan berat badan.1

Tanda dan gejala kanker mulut2

Tahap Awal

  • Lesi ulser kemerahan atau keputihan yang menetap tidak kunjung sembuh
  • Pembengkakan yang progresif atau perubahan permukaan oral yang meluas
  • Gigi sekitar lesi mengalami kegoyangan
  • Lesi mengeluarkan darah

Tahap Lanjut

  • Lesi indurasi
  • Parastesia dan nyeri
  • Hambatan jalan nafas
  • Nyeri pada telinga

Pada kasus dalam jurnal ini merupakan manifestasi lesi awal menurut tampilan klinis nya terlihat pembengkakan pada palatum durum di dekat insisivus sentral dan lateral kiri atas berukuran ukuran 15 mm dengan bentuk yang tidak teratur, bergranular dan berwarna merah gelap. Area tersebut lembut saat disentuh, tidak berindurasi, tidak ulserasi, dan bagian ujung-ujungnya sedikit terangkat.

3.3. Human Papiloma Virus (HPV)3

HPV merupakan virus yang sering menyebabkan infeksi pada genital. HPV ditularkan melalui aktivitas seksual terutama pada usia yang dini dan melakukan dengan banyak pasangan seksual, selain itu dapat juga melalui sentuhan kulit di wilayah genital tersebut (skin to skin contact). HPV (Human Papilloma Virus) juga disebut wart virus (virus kutil).

Faktor resiko HPV

• Sering berganti pasangan. Berhubungan seks dengan lebih dari satu pasangan akan mempertinggi risiko Anda.

• Berbagi barang pribadi, misalnya handuk, saputangan, atau kaus kaki.

• Sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya mengidap HIV/AIDS atau menjalani kemoterapi.

• Kulit yang sedang luka.

• Kebersihan genetalia yang rendah.

• Melakukan hubungan seksual pada usia kurang dari 20 tahun.

• Riwayat penyakit kelamin dan infeksi virus seperti herpes dan kutil genetalia.

3.4. Stadium kanker rongga mulut

Stadium kanker menunjukan seberapa besar dan jauhnya tumbuh serta penyebaran kanker. Informasi stadium kanker membantu dokter untuk memutuskan perawatan terbaik. Pemeriksaan klinis dan radiografi yang dilakukan untuk mendiagnosis kanker dan memberikan informasi tahap perkembangan atau stadium. Ada berbagai cara untuk menentukan stadium kanker. Dua sistem utama adalah sistem TNM dan sistem nomor.2

T: Ukuran Tumor

  • T1 Ukuran tumor kurang dari 2 cm melibatkan jaringan lunak
  • T2 Ukuran tumor lebih dari 2 cm melibatkan jaringan lunak
  • T3 Ukuran tumor lebih dari 4 cm melibatkan jaringan lunak
  • T4a Tumor tidak hanya melibatkan jaringan lunak, telah berkembang melibatkan tulang, lidah dan sinus atau kulit
  • T4b Tumor telah meluas meliputi bagian posterior rahang bawah, bagian posterior rahang atas, basis craniid an leher dimana terdapat arteri karotis

N: keterlibatan nodus limfatikus

  • N0 Tidak ada sel kanker pada nodus limfa
  • N1 Terdapat sel kanker pada 1 nodus limfa melibatkan hanya 1 sisi leher dan berukuran kurang dari 3 cm
  • N2a Terdapat sel kanker pada 1 nodus limfa melibatkan hanya 1 sisi leher dan berukuran lebih dari 3 cm namun kurang dari 6 cm
  • N2b Terdapat sel kanker pada lebih dari 1 nodus limfa melibatkan hanya 1 sisi leher dan berukuran kurang dari 6 cm
  • N2c Terdapat sel kanker pada lebih dari 1 nodus limfa melibatkan hanya 2 sisi leher dan berukuran kurang dari 6 cm
  • N3 Terdapat sel kanker pada 1 nodus limfa dan lebih dari 6 cm

M: metastasis kanker

  • M0 Sel kanker tidak menyebar pada organ lain
  • M1 Sel kanker menyebar pada organ lain seperti paru paru

Pada kasus ini dokter pemeriksa mendapatkan kode stadium kanker T1N0M0 yang artinya, tumor berukuran kurang dari 2 cm melibatkan jaringan lunak, tidak ada sel kanker pada nodus limfatikus, dan tidak ada penyebaran pada organ lainya

3.5. Penanganan kanker mulut

• Tindakan bedah

Tindakan pembedahan merupakan tindakan yang paling sering digunakan dalam penanganan kasus kanker rongga mulut, sebagian besar kasus kanker rongga mulut dilakukan tindakan pembedahan. Telah banyak penelitain dan pengalaman yang menunjukan keefektifan tindakan bedan sebagai perawatan utama pada pasien kanker. Tindakan bedah dilakukan untuk mengangkat organ atau jaringan yang telah terinfeksi oleh sel kanker, pengangkatan biasanya dilakukan hingga melibatkan jaringan sehat

disekitar sel kanker. Setelah diperkenalkan metode pengobatan radioterapi dan kemoterapi, penanganan kanker dengan hanya melakukan pembedahan telah jarang digunakan. Kini biasanya tindakan bedah dilakukan diikuti dengan radioterapi atau kemoterapi. Namnun, pada kasus tahap awal kanker rongga mulut dapat ditangani dengan tindakan pembedahan saja tidak perlu diikuti dengan kemoterapi atau radioterapi.4

Crile dan Martin yang menemukan dan mempopulerkan tindakan bedah pada leher secar radikal dapat digunakan untuk menangani kanker rongga mulut yang bermetastasis hingga nodus limfatikus. Beberapa tahun kemudian metodi Crile dan Martin telah dimonifikasi menjadi radical neck dissection surgery untuk tumor yang telah bermetastasis luas pada nodus limfatikus leher dan Elective/selective neck dissection surgery digunakan untuk tumor yang meluas hanya pada salah satu nodus limfatikus pada leher dan mengenai satu sisi. 4

• Pembedahan ditambah radioterapi

Mengkombinasikan tindakan pembedahan disertai radioterapi pasca bedah merupakan perawatan yang paling sering dilakukan untuk menangani kasus kanker kepala dan leher dengan tahap lebih lanjut. Radioterapi dilakukan setelah tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mematikan sel kanker pada area yang sulit dijangkau oleh tindakan bedah dan pada nodus limfatikus atau pembuluh darah. Dosis radiasi yang digunakan yaitu 2 Gy tiap perawatan selama 30 hari atau 6 minggu dengan total dosis radiasi 60 Gy. Meskipun telah ditambah dengan perawatan radioterapi pasca pembedahan bukan berarti menjamin pasien bebas dari sel kanker dan dinyatakan sembug, kemungkinan rekurensi tetap ada namun kecil dan meminimalisir metastasis sel kanker yang sangan cepat. 4

• Radioterapi

Radioterapi tidak digunakan sebagai perawatan tunggal dalam menangani kasus kanker kepala dan leher. Terapi ini dapat dilakukan secara tunggal sebagai terapi alternatif apabila pasien menolak untuk dilakukan pembedahan dan lokasi sel kanker sulit dijangkau oleh tindakan bedah seperti kanker orofaring dan kanker laring. Radioterapi biasanya digunakan dengan dikombinasikan oleh tindakan bedah atau kemoterapi pada kasus tahap lanjut. Radioterapi ini dilakukan dengan tujuan untuk mematikan sel kanker dengan merusak struktur DNA sel kanker yang menempel pada jaringan sehat sehingga menghambat pertumbuhanya. 4

• Kemoterapi

Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang bertujuan untuk merusak sel malignan sehingga dapat mengkontrol perkembangan dan metastasis tumor. Kemoterapi bukan merupakan terapi utama melainkan terapi pendamping yang dapat dilakukan sebelum tindakan bedah (induksi) atau setelah tindakan bedah (kemoradioterapi) atau
keduanya. Kemoterapi digunakan dengan kombinasi tindakan bedah atau radioterapi untuk menangani kasus kanker kepala dan leher tahap lanjut. Pada kemoterapi menggunakan dosis cisplatin 100 mg/m2 per hari. Kemoradioterapi memiliki keuntungan yaitu distribusi obat dapat optimal melalui pembuluh darah untuk mencegah metastasis tumor. Selain itu kemoradioterapi memiliki komplikasi berupa efek toksik pada tubuh.

Gambar 10. Penentu perawatan kanker kepala dan leher yang tepat

3.6. Obturator

Obturator di definisikan sebagai prostesa yang digunakan untuk menutup jaringan yang terbuka sejak lahir atau yang baru saja diperoleh, terutama pada palatum keras dan struktur alveolar yang berdekatan. Obturator tidak hanya menutup defek tapi juga membantu pasien saat minum, makan dan berbicara yang menjadi sulit karena terbukanya oro-nasal.

Macam – macam obturator:

• Surgical obturator: obturator ini insersi setelah tindakan bedah telah selesai dilakukan memiliki permukaan yang halus dan ringan

• Interim obturator: obturator ini digunakan setelah proses penyembuhan (3 bulan pasca tindakan bedah)

• Definitive obturator: obturator ini dibuat setelah proses penyembuhan selesai dan jaringan lunak tidak akan berubah lagi (6 bulan setelah pembedahan)

3.7. Free flap reconstruction

Free flap reconstruction merupakan sebuah tindakan pembedahan yang bertujuan untuk menutup defek yang didapat sejak lahir maupun baru saja didapat karena tindakan pembedahan atau kecelakaan. Free flap reconstruction pada palatum bertujuan untuk mengembalikan fungsi bicara, fungsi mastikasi, menghindari dari infeksi pada rongga sinus dan nasal, meningkatkan estetik dan meningkatkan percaya diri pasien. Metode free flap reconstruction bergantung pada besar nya defek, lokasi, dan sisa jaringan setelah pembedahan. Pada kasus defek besar dapat dilakukan free flap reconstruction dengan Teknik myocutaneous free flap yaitu penutupan defek palatum dengan mengambil mukosa dan otot pipi, pada kasus ini dapat digunakan bone graft untuk mengembalikan bentuk pada palatum. Teknik ini dapat menyediakan perdarahan yang baik pada area tersebut, menghasilkan tekstur atau bantalan mukosa yang baik sehingga mampu menerima beban dari gigi tiruan, memiliki kemampuan menutup defek yang baik dibandingkan dengan obturator dan tindakan rekonstruksi hanya dilakukan sekali seumur hidup.6

Bab 4

Kesimpulan

Kanker kepala dan leher dapat terjadi disebabkan oleh berbagai faktor pemicu diantaranya trauma dental. Keberhasilan perawatan bergantung pada diagnosis dini dan penentuan rencana perawatan yang dilakukan. Diagnosis dini dapat diwujudkan dengan kesadaran pasien dalam memeriksakan ke dokter gigi 6 bulan sekali atau jika terdapat lesi menetap yang tidak kunjung sembuh hal ini didukung dengan dokter yang teliti dan jeli dalam melihat dan mengidentifikasi tampilan klinis pada pasien yang selanjutnya dapat ditunjang dengan pemeriksaan biopsy dan ct scan. Dokter gigi juga perlu menentukan perawat yang tepat berdasarkan stadium perkembangan tumor dan dokter juga harus bisa memberikan motivasi kepada pasien agar perawatan memiliki respon baik pada pasien. Hal ini dapat meningkatkan taraf hidup pasien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Corso GD, Villa A, dkk. Current trends in oral cancer: a review. USA. 2016;3:1-10

2. Visalaxi G. Oral Cancer Early Detection and Stages Using Various Methods. IJIRCCE.2014;11(2)

3. Camisasca DR, dkk. Oral HPV related diseases: a review and an update. Intech. 2016: 17-38

4. Deng H, Sambrook PJ, Logan RM. Review The treatment of oral cancer: an overview for

dental professionals. Australia: Australian dental journal. 2011;56.p.244-52

5. Singhvi HR, Malik A, Chaturvedi P. The Role of Chronic Mucosal Trauma in Oral Cancer: A Review of Literature. India: Indian J Med Paediatr Oncol.; 38(1).p.44–50.

6. Futran ND, Haller JR. Considerations for Free-Flap Reconstruction of the Hard Palate. American medical Assosiation. 1999.

CategoryArtikel
Write a comment:

*

Your email address will not be published.

For emergency cases        021-29287264, 0811-1687-264

WhatsApp live chat